Friday, 15 March 2013

Infertilitas


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Infertilitas merupakan suatu permasalahan yang cukup lama dalam dunia kedokteran.Namun sampai saat ini ilmu kedokteran baru berhasil menolong ± 50% pasangan infertililitas untuk memperoleh anak. Di masyarakat kadang infertilitas di salah artikan sebagai ketidakmampuan mutlak untuk memiliki anak atau ”kemandulan” pada kenyataannya dibidang reproduksi, infertilitas diartikan sebagai kekurangmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan, jadi bukanlah ketidakmampuan mutlak untuk memiliki keturunan.
Menurut catatan WHO, diketahui penyebab infertilitas pada perempuan di antaranya, adalah: faktor Tuba fallopii (saluran telur) 36%, gangguan ovulasi 33%, endometriosis 30%, dan hal lain yang tidak diketahui sekitar 26%.Hal ini berarti sebagian besar masalah infertilitas pada perempuan disebabkan oleh gangguan pada organ reproduksi atau karena gangguan proses ovulasi.  Di Indonesia terdapat sekitar tiga juta pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak dan dikatakan sebagai pasangan yang mengalami kemandulan atau infertilitas. Sebagian besar pasangan suami istri berpikir bahwa mereka akan mudah memperoleh anak. Sebetulnya 1 diantara 10 pasang akan mengalami hambatan untuk mempunyai anak.
Infertilitas bagi pasangan suami istri yang mendambakan anak menimbulkan kesedihan, kemarahan dan kekecewaan dalam keluarga. Ilmu kedokteran masa kini baru berhasil menolong 50 % pasangan suami istri untuk dapat memperoleh anak. Ini berarti separuhnya terpaksa menempuh hidup tanpa anak, mengangkat anak ( adopsi), poligini atau bercerai.Seringkali wanita yang dipersalahkan bila suatu pasangan suami istri sukar memperoleh keturunan. Sekitar 40 % kasus infertilitas disebabkan oleh kemandulan wanita, 30 % disebabkan oleh kemandulan pria dan 30% oleh keduanya. Kadang-kadang dalam pasangan suami istri, pria tidak bisa menerima kenyataan bahwa masalah berasal dari kedua belah pihak, sehingga akan menolak untuk dilakukan pemeriksaan. Hal ini disebabkan karena menganggap infertilitas sebagai suatu hal yang memalukan di masyarakat, dimana seorang pria diharapkan dapat meneruskan keturunannya sebagai ciri kejantanan.

1.2. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini agar mahasiswa dapat mengetahui tentang infertilitas, faktor penyebab infertilitas, serta faktor lain yang dapat mempengaruhi terjadinya infertilitas baik pada pria maupun pada wanita.

1.3. Manfaat Penulisan
Manfaat yang didapatkan dalam penulisan makalah ini antra lain :
1.      Sebagai bahan informasi bagi masyarakat terutama bagi keluarga yang terkena penyakit  infertilitas.
2.      Sebagai bahan bacaan kedepan bagi mahasiswa lain yang mempunyai minat terkait dengan infertilitas.


 



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Definisi Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya satu tahun berhubungan seksual sedikitnya empat kali seminggu tanpa kontrasepsi (Strigh B, 2005 : 5 ). Sedangkan Menurut Mansjoer, 2004. Infertilitas adalah bila pasangan suami istri, setelah bersanggama secara teratur 2-3 kali seminggu, tanpa memakai metode pencegahan belum mengalami kehamilan selama satu tahun
2.1.1. Jenis infertilitas
Jenis infertilitas ada dua yaitu  infertilitas primer dan infertilitas sekunder.  Infertilitas primer adalah kalau istri belum pernah hamil walaupun bersanggama tanpa usaha kontrasepsi dan dihadapkan pada kepada kemungkinan kehamilan selama dua belas bulan. Infertilitas sekunder adalah kalau isrti pernah hamil, namun kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersanggama tanpa usaha kontrasepsi dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama dua belas bulan.
2.1.2. Penyebab Infertilitas
Penyebab infertilitas dapat dibagi menjadi tiga kelompok : satu pertiga masalah terkait pada wanita, satu pertiga pada pria dan satu pertiga disebabkan oleh faktor kombinasi.

2.2. Infertilitas Pada Wanita

 
a. Masalah vagina
Infeksi vagina seperti vaginitis, trikomonas vaginalis yang hebat akan menyebabkan infeksi lanjut pada portio, serviks, endometrium bahkan sampai ke tuba yang dapat menyebabkan gangguan pergerakan dan penyumbatan pada tuba sebagai organ reproduksi vital untuk terjadinya konsepsi. Disfungsi seksual yang mencegah penetrasi penis, atau lingkungan vagina yang sangat asam, yang secara nyata dapat mengurangi daya hidup sperma ( Stright B, 2005 : 60 ).
b. Masalah serviks
Gangguan pada setiap perubahan fisiologis yang secara normal terjadi selama periode praovulatori dan ovulatori yang membuat lingkungan serviks kondusif bagi daya hidup sperma misalnya peningkatan alkalinitas dan peningkatan sekresi ( Stright B, 2005, hal. 60 ).
c. Masalah uterus
Nidasi ovum yang telah dibuahi terjadi di endometrium. Kejadian ini tidak dapat berlangsung apabila ada patologi di uterus. Patologi tersebut antara lain polip endometrium, adenomiosis, mioma uterus atau leiomioma,bekas kuretase dan abortus septik. Kelainan-kelainan tersebut dapat mengganggu implantasi, pertumbuhan,nutrisi serta oksigenisasi janin ( Wiknjosastro, 2002 : 509 ).
d. Masalah tuba
Saluran telur mempunyai fungsi yang sangat vital dalam proses kehamilan. Apabila terjadi masalah dalam saluran reproduksi wanita tersebut, maka dapat menghambat pergerakan ovum ke uterus, mencegah masuknya sperma atau menghambat implantasi ovum yang telah dibuahi. Sumbatan di tuba fallopi merupakan salah satu dari banyak penyebab infertilitas. Sumbatan tersebut dapat terjadi akibat infeksi, pembedahan tuba atau adhesi yang disebabkan oleh endometriosis atau inflamasi (Hall et all. 1974 ). Infertilitas yang berhubungan dengan masalah tuba ini yang paling menonjol adalah adanya peningkatan insiden penyakit radang panggul ( pelvic inflammatory disease –PID). PID ini menyebabkan jaringan parut yang memblok kedua tuba fallopi.
e. Masalah ovarium
Wanita perlu memiliki siklus ovulasi yang teratur untuk menjadi hamil, ovumnya harus normal dan tidak boleh ada hambatan dalam jalur lintasan sperma atau implantasi ovum yang telah dibuahi. Dalam hal ini masalah ovarium yang dapat mempengaruhi infertilitas yaitu kista atau tumor ovarium, penyakit ovarium polikistik, endometriosis, atau riwayat pembedahan yang mengganggu siklus ovarium. Dari perspektif psikologis, terdapat juga suatu korelasi antara hyperprolaktinemia dan  tingginya tingkat stress diantara pasangan yang mempengaruhi fungsi hormone.( Handersen C & Jones K, 2006 : 86 ).

2.3. Infertilitas Pada Pria
a. Faktor koitus pria
Faktor-faktor ini meliputi spermatogenesis abnormal, motilitas abnormal, kelainan anatomi, gangguan endokrin dan disfungsi seksual. Kelaianan anatomi yang mungkin menyebabkan infertilitas adalah tidak adanya vasdeferens kongenital, obstruksi vasdeferens dan kelainan kongenital system ejakulasi. Spermatogenesis abnormal dapat terjadi akibat orkitis karena mumps, kelainan kromosom, terpajan bahan kimia, radiasi atau varikokel ( Benson R & Pernoll M, 2009 : 680 ).

b. Masalah ejakulasi
Ejakulasian retrograde yang berhubungan dengan diabetes, kerusakan saraf, obat-obatan atau trauma bedah.
c. Faktor lain
Adapun yang berpengaruh terhadap produksi sperma atau semen adalah infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, stress, nutrisi yang tidak adekuat, asupan alkohol berlebihan dan nikotin.
d. Faktor pekerjaan
Produksi sperma yang optimal membutuhkan suhu di bawah temperature tubuh, Spermagenesis diperkirakan kurang efisien pada pria dengan jenis pekerjaan tertentu, yaitu pada petugas pemadam kebakaran dan pengemudi truk jarak jauh ( Henderson C & Jones K, 2006 : 89).
e. Masalah interaktif
Berupa masalah yang berasal dari penyebab spesifik untuk setiap pasangan
meliputi : frekuensi sanggama yang tidak memadai, waktu sanggama yang buruk,
perkembangan antibody terhadap sperma pasangan dan ketidakmampuan sperma untuk melakukan penetrasi ke sel telur  ( Stritgh B, 2005 : 61 ).
Infertilitas terutama lebih banyak terjadi di kota-kota besar karena gaya hidup yang penuh stres, emosional dan kerja keras serta pola makan yang tidak seimbang. Infertilitas dapat terjadi dari sisi pria, wanita, kedua-duanya, maupun pasangan. Disebut infertilitas pasangan bila terjadi penolakan sperma suami oleh istri sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidaksesuaian antigen/antibodi pasangan tersebut.

Dari sisi pria, penyebab infertilitas yang paling umum terjadi adalah:
1.    Bentuk dan gerakan sperma yang tidak sempurna
Sperma harus berbentuk sempurna serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke telur agar dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk dan struktur (morfologi) sperma tidak normal atau gerakannya (motilitas) tidak sempurna sperma tidak dapat mencapai atau menembus sel telur.
2.    Konsentrasi sperma rendah
Konsentrasi sperma yang normal adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10 juta/ml atau kurang maka menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur). Hitungan 40 juta sperma/ml atau lebih berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana ketat), terlalu sering berejakulasi (hiperseks), merokok, alkohol dan kelelahan.
3.    Tidak ada semen
Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang.
4.    Varikosel (varicocele)
Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis. Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan penyimpanan sperma. Varises yang disebabkan kerusakan pada sistem katup pembuluh darah tersebut membuat pembuluh darah melebar dan mengumpulkan darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi dan menyalurkan sperma terganggu.
5.    Testis tidak turun
Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau kedua buah pelir tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong skrotum. Karena suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu pada skrotum, produksi sperma mungkin terganggu.
6.    Kekurangan hormon testosteron
Kekurangan hormon ini dapat memengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma.
7.    Kelainan genetik
Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua kromosom X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini menyebabkan pertumbuhan abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali tidak memproduksi sperma. Dalam penyakit Cystic fibrosis, beberapa pria penderitanya tidak dapat mengeluarkan sperma dari testis mereka, meskipun sperma tersedia dalam jumlah yang cukup. Hal ini karena mereka tidak memiliki vas deferens, saluran yang menghubungkan testis dengan saluran ejakulasi.
8.    Infeksi
Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular seksual seperti klamidia dan gonore sering menyebabkan infertilitas karena menyebabkan skar yang memblokir jalannya sperma.

9.    Masalah seksual
Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi prematur, sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan minyak atau pelumas tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma.
10.     Ejakulasi balik
Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung kemih, bukannya keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkannya, di antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih, prostat atau uretra, dan pengaruh obat-obatan tertentu.
11.     Sumbatan di epididimis/saluran ejakulasi
Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma (epididimis) atau saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang membawa sperma dari testis ke lubang penis.
12.     Lubang kencing yang salah tempat (hipoepispadia)
Kelainan bawaan ini terjadi saat lubang kencing berada di bagian bawah penis. Bila tidak dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks.
13.     Antibodi pembunuh sperma
Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria menjalani vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak kembali saat vasektomi dicabut.


14.     Pencemaran lingkungan
Paparan polusi  lingkungan dapat mengurangi jumlah sperma dengan efek langsung pada fungsi testis dan sistem hormon. Beberapa bahan kimia yang mempengaruhi produksi sperma antara lain: radikal bebas, pestisida (DDT, aldrin, dieldrin, PCPs, dioxin, furan, dll), bahan kimia plastik, hidrokarbon (etilbenzena, benzena, toluena, dan xilena), dan logam berat seperti timbal, kadmium atau arsenik.
15.     Kanker Testis
infertilitas priaKanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan menyimpan sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 – 32 tahun.







Gambar gerakan sperma yang tidak sempurna
2.4. Penyebab Infertilitas Sekunder
Masalah pada infertilitas sekunder sangat berhubungan dengan masalah pada pasangan dengan infertilitas primer. Sebagian besar pasangan dengan infertilitas sekunder menemukan penyebab masalah kemandulan sekunder tersebut, darikombinasi  berbagai faktor  meliputi :

Ø Usia
Faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita. Selama wanita tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti mengalami haid yang teratur, kemungkinan masih bisa hamil. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur akan mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa potensi wanita untuk hamil akan menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis setelah usia diatas 38 tahun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics menunjukkan bahwa wanita subur berusia dibawah 25 tahun memiliki kemungkinan hamil 96% dalam setahun, usia 25 –34 tahun menurun menjadi 86% dan 78% pada usia 35 – 44 tahun. Pada pria dengan bertambahnya usia juga menyebabkan penurunan kesuburan.
Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang hidupnya, akan tetapi morfologi sperma mereka mulai menurun. Penelitian mengungkapkan hanya sepertiga pria yang berusia diatas 40 tahun mampu menghamili isterinya dalam waktu 6 bulan dibanding pria yang berusia dibawah 25 tahun. Selain itu usia yang semakin tua juga mempengaruhi kualitas sperma ( Kasdu, 2001:63 ).
Ø Masalah reproduksi
Masalah pada system reproduksi dapat berkembang setelah kehamilan awal
bahkan, kehamilan sebelumnya kadang-kadang menyebabkan masalah reproduksi yang benar-benar mengarah pada infertilitas sekunder, misalnya perempuan yang melahirkan dengan operasi caesar, dapat menyebabkan jaringan parut yang mengarah pada penyumbatan tuba. Masalah lain yang juga berperan dalamreproduksi yaitu ovulasi tidak teratur, gangguan pada kelenjar pituitary dan penyumbatan saluran sperma.
Ø Faktor gaya hidup
Perubahan pada faktor gaya hidup juga dapat berdampak pada kemampuan setiap pasangan untuk dapat menghamili atau hamil lagi. Wanita dengan berat badan yang berlebihan sering mengalami gangguan ovulasi, karena kelebihan berat badan dapat mempengaruhi estrogen dalam tubuh dan mengurangi kemampuan untuk hamil. Pria yang berolah raga secara berlebihan juga dapat meningkatkan suhu tubuh mereka,yang mempengaruhi perkembangan sperma dan penggunaan celana dalam yang ketat juga mempengaruhi motilitas sperma ( Kasdu, 2001:66 ).
2.4.1 Faktor Penyebab Infertilitas dari Segi Psikologis
Kesuburan wanita secara mutlak dipengaruhi oleh proses-proses fisiologis dan anatomis, di mana proses fisiologis tersebut berasal dari sekresi internal yang
mempengaruhi kesuburan. Dalam hal ini kesuburan wanita itu merupakan satu unit psikosomatis yang selalu dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor psikis dan factor organis atau fisis. Kesulitan-  kesulitan psikologis ini berkaitan dengan koitus dan kehamilan, yang biasanya mengakibatkan ketidakmampuan wanita menjadi hamil. Pengalaman-pengalaman membuktikan, bahwa unsur ketakutan serta kecemasan berkaitan dengan fungsi reproduksi yang menimbulkan dampak yang merintangi tercapainya orgasme pada koitus. Pada umumnya dinyatakan bahwa sebab yang paling banyak dari kemandulan adalah ketakutan-ketakutan yang tidak disadari atau yang ada dibawah sadar, yang infantile atau kekanak-kanakan sifatnya. (Kartono, 2007:74 ). Penelitian kedokteran juga menemukan bahwa peningkatan kadar prolaktin dan kadar Lutheinizing Hormon (LH) berhubungan erat dengan masalah psikis. Kecemasan dan ketegangan cenderung mengacaukan kadar LH, serta kesedihan dan murung cenderung meningkatkan prolaktin. Kadar prolaktin yang tinggi dapat mengganggu pengeluaran LH dan menekan hormon gonadotropin yang mempengaruhi terjadinya ovulasi ( Kasdu, 2001 : 70 ).
Pasangan suami istri yang mengalami infertilitas sering kali mengalami perasaan tertekan terutama pihak wanita yang pada akhirnya dapat jatuh pada keadaan depresi, cemas dan lelah yang berkepanjangan. Perasaan yang dialami para wanita tersebut timbul sebagai akibat dari hasil pemeriksaan, pengobatan dan penanganan yang terus menerus tidak membuahkan hasil. Hal inilah yang mengakibatkan wanita merasa kehilangan kepercayaan diri serta perasaan tidak enak terhadap diri sendiri, suami dan keluarga ataupun lingkungan dimana wanita itu berada. Keadaan wanita yang lebih rileks ternyata lebih mudah hamil dibandingkan dengan wanita yang selalu dalam keadaan stres.
Adapun perasaan tertekan atau tegang yang dialami wanita tersebut berpengaruh terhadap fungsi hipotalamus yang merupakan kelenjar otak yang mengirimkan sejumlah sinyal untuk mengeluarkan hormon stres keseluruh tubuh. Hormon stress yang terlalu banyak keluar dan lama akan mengakibatkan rangsangan yang berlebihan pada jantung dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Kelebihan hormon stres juga dapat mengganggu keseimbangan hormon, sistem reproduksi ataupun kesuburan. Pernyataan ini seperti dikemukakan oleh Mark Saver pada penelitiannya tahun 1995, mengenai Psychomatic Medicine  yang menjelaskan bahwa wanita dengan riwayat tekanan jiwa kecil kemungkinan untuk hamil dibandingkan dengan wanita yang tidak mengalaminya. Hal ini terjadi karena wanita tersebut mengalami ketidakseimbangan hormon (hormon estrogen). Kelebihan hormon estrogen akan memberikan sinyal kepada hormon progesteron untuk tidak berproduksi lagi karena kebutuhannya sudah mencukupi. Akibatnya akan terjadi kekurangan hormon progesteron yang berpengaruh terhadap proses terjadinya ovulasi (Kasdu, 2001 : 72).
2.4.2. Pengaruh Kebudayaan terhadap Infertilitas
Berbagai budaya di belahan dunia masih menggunakan simbol dan upacara adat untuk merayakan fertilitas ataupun keberhasilan pasangan dalam memperoleh keturunan. Salah satu upacara yang masih bertahan sampai saat ini ialah adat istiadat melempar beras ke arah pengantin pria dan wanita. Ada juga yang memberikan rokok, permen ataupun pensil sebagai ucapan selamat kepada pria yang baru menjadi ayah sebagai antisipasi kelahiran anak. Banyak budaya yang masih menjamur terutama ditengah-tengah masyarakat kita yang menyatakan bahwa suatu ketidaksuburan itu merupakan tanggung jawab wanita.

2.5. Kecemasan
Kecemasan atau ansietas adalah perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Tidak ada objek yang dapat diidentifikasi sebagai stimulus ansietas (Comer, 1992 dalam Videbeck 2008).Menurut Daradjat Z (2006), kecemasan adalah suatu manifestasi dari berbagai proses emosi   yang bercampur baur, yang terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan dan pertentangan bathin atau konflik. Kecemasan memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek membahayakan, yang bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas yang dialami dan seberapa baik seseorang itu menghadapi ansietas tersebut. Setiap tingkat ansietas menyebabkan perubahan fisiologis dan emosional pada setiap individu yang mengalaminya.Gangguan kecemasan pada pasangan infertilitas sekunder dapat berupa rasa takut dan khawatir yang tidak menyenangkan yang sering disertai dengan rasa tidak percaya bahwa mereka sulit untuk hamil  lagi setelah sukses untuk hamil pertama kali. Hal ini umum untuk mengalami perasaan sedih, melihat orang yang dengan begitu mudah mengembangkan keluargan mereka. Pasangan yang mengalami infertilitas sekunder sering juga merasa sendirian, tidak hanya keluarga, teman-teman juga sepertinya tidak mampu memahami dan kurang mendukung mereka.
Menurut Peplau (1952 ), ada empat tingkatan kecemasan yaitu :
1.        Kecemasan ringan berhubungan dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Dalam hal ini individu dapat memproses informasi, belajar dan menyelesaikan masalah. Pada dasarnya kecemasan ini dapat memotivasi belajar, berpikir, bertindak, merasakan dan melindungi diri sendiri.
2.        Kecemasan sedang merupakan perasaan yang mengganggu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda, yang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain. Kecemasan ini dapat mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian individu mengalami tindak perhatian yang selektif, namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
3.        Kecemasan berat dialami ketika individu yakin bahwa ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman serta memperlihatkan respon takut dan distress. Pada tahap ini individu mengalami kesulitan untuk berpikir dan melakukan pertimbangan, otot-otot menjadi tegang, tanda vital meningkat, mondar mandir, gelisah, iritabilitas dan kemarahan. Semua prilaku yang ditunjukkan menggunakan cara psikomotor emosional yang sama untuk melepas ketegangan dan individu memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada hal lain.
4.        Tahap panik memperlihatkan bahwa semua pemikiran rasional berhenti dan individu tersebut mengalami respon fight, flight atau freeze, yakni kebutuhan untuk pergi secepatnya, tetap di tempat dan berjuang atau menjadi beku dan tidak dapat melakukan sesuatu. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain dan persepsi yang menyimpang. Gangguan kecemasan pada setiap individu dapat bersifat ekstrem dan melemahkan, yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

2.6. Frekuensi dan Distribusi pada Infertilitas
Hubungan intim (coitus) atau onani (masturbasi) yang dilakukan setiap hari akan mengurangi jumlah dan kepadatan sperma. Frekuensi yang dianjurkan adalah 2-3 kali seminggu sehingga memberi waktu testis memperoduksi sperma dalam jumlah cukup dan matang. Inferilitas dipengaruhi oleh hubungan seksual yang berkualitas yaitu dilakukan dengan frekuensi 2-3 kali seminggu, terjadi penetrasi dan tanpa kontrasepsi. Penetrasi adalah masuknya penis ke vagina sehinga sperma dapat dikeluarkan yang nantinya akan bertemu sel telur yang menunggu di saluran telur wanita (tuba fallopii). Penetrasi terjadi bila penis tegang (ereksi). Oleh karena itu, gangguan ereksi (impotensi) dapat menyebabkan infertilitas. Penetrasi yang optimal dilakukan dengan cara posisi pria diatas dan wanita dibawah sebagai tambahan dibawah pantat wanita diberi bantal agar sperma dapat tertampung, dianjurkan setelah wanita menerima sperma, wanita berbaring dulu selama 10 menit sampai satu jam bertujuan memberi waktu pada sperma bergerak menuju saluran telur untuk bertemu sel telur.
Marak ditengah masyarakat bahwa supaya hamil saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu, hal ini juga perlu diingat bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu telur dilepas sel indung telur dalam setiap masturbasi yaitu 14 hari sebelum mentruasi berikutnya, peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menuggu sel sperma di saluran telur (tuba fallopii) selama ± 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.
Grafik 1. Prevalensi penyebab terjadinya infertilitas
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmrvuT95yF4H6Moh8p8N2Gpn_tEjKZwUHwqtVJfHKIaozMSxiunojV1wTnWD5rc5SbMBgAEiex5eth26nkevLa5thshhL6iBa_7-NwyRicEFYmhbAz3XfZGkf4kGyreiiHd0SyYM4lnLA/s1600/Wongso+-+gambar+persentase+faktor+infertilitas.bmp




Dari grafik diatas membuktikan bahwa suami menyumbang 25-40% dari angka kejadian infertil, istri 40-55%, keduanya 10%, dan idiopatik 10%. Hal ini dapat menghapus anggapan bahwa infertilitas terjadi murni karena kesalahan dari pihak wanita/istri. 


Tabel 1. Lama infertilitas pada pasangan-pasangan di berbagai wilayah geografis

Lama infertilitas dalam tahun
Persentase Pasangan
Negara maju
Afrika
Asia
Amerika Latin
Timur Tengah
<> 
46
30
34
35
24
2,5 – 4
29
33
31
29
22
4,5 – 7,5
18
21
22
24
26
> 8
7
16
13
12
28

Tabel 1. Menunjukkan lama infertilitas perlu dalam merancang atau melaporkan penelitian ilmiah dan klinis tentang infertilitas. Pada percobaan klinis tanpa kontrol, angka kehamilan spontan sering kali disalahartikan sebagai efek pengobatan. Pada umumnya, pasangan di negara maju mencari bantuan pengobatan setelah waktu intertilitas yang lebih pendek. Lama infertilitas tidak memberikan informasi tentang apakah masalah infertilitas ada pada pihak pria atau wanita. Pada kasus-kasus infertilitas sekunder harus dicatat jumlah bulan setelah kehamilan terakhir. Untuk pria dengan infertilitas sekunder, jangka waktu yang lebih panjang dari kehamilan terakhir dapat berhubungan dengan peningkatan kemungkinan kelainan yang didapat pada diagnosis.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Macam Infertilitas pada Wanita Infertilitas 

Macam Infertilitas
Frekuensi
Presentase (%)
Primer
16
84,21
Sekunder
3
15, 79
Jumlah
19
100 %

Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa dari 19 responden, sebanyak 16 responden (84,21 %) adalah wanita infertilitas primer.
2.7. Gejala dan Pencegahan Infertilitas
A. Gejala
1.      Gejala yang timbul tidak kunjung hamil.
2.      Reaksi emosional (baik pada isteri, suami maupun keduanya) kerena tidak memiliki anak.
3.      Kemandulan sendiri tidak menyebabkan penyakit fisik, tetapi dampak psikisnya pada suami, isteri maupun keduanya bisa sangat berat.
4.      Pasangan tersebut mungkin akan menghadapi masalah
5.      Pernikahan (termasuk perceraian), depresi dan kecemasan.
B. Pencegahan
1.         Kemandulan seringkali sebabkan oleh penyakit menular seksual, karena itu dianjurkan untuk menjalani perilaku seksual yang aman guna meminimalkan risiko kemandulan dimasa yang akan datang.
2.         Imunisasi gondongan telah terbukti mampu mencegah gondongan dan komplikasinya pada pria (orkitis). Kemandulan akibat gondongan bisa dicegah dengan menjalani imunisasi gondongan.
3.         Beberapa jenis alat kontrasepsi memiliki risiko kemandulan lebih tinggi misalnya; IUD. IUD tidak dianjurkan untuk dipakai pada wanita yang belum pernah memiliki anak.






BAB III
PENUTUP

3.1.   Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, maka ada beberapa hal yang dapat kami simpulkan antara lain sebagai berikut :
1.      Wanita perlu memiliki siklus ovulasi yang teratur untuk menjadi hamil, ovumnya  harus normal dan tidak boleh ada hambatan dalam jalur lintasan sperma atau implantasi ovum yang telah dibuahi.
2.      Disebut infertilitas pasangan bila terjadi penolakan sperma suami oleh istri sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketidaksesuaian antigen/antibodi pasangan tersebut.
3.      motilitas abnormal, kelainan anatomi, gangguan endokrin dan disfungsi seksual. Kelaianan anatomi yang mungkin menyebabkan infertilitas adalah tidak adanya vasdeferens kongenital, obstruksi vasdeferens dan kelainan kongenital system ejakulasi. Spermatogenesis abnormal dapat terjadi akibat orkitis karena mumps, kelainan kromosom, terpajan bahan kimia, radiasi atau varikokel.

3.2.   Saran

 
Sebaiknya bagi keluarga yang mempunyai penyakit yang sama terkait dengan infertilitas, maka perlu dilakukannya pemeriksaan kedokter untuk dilakukan uji lanjut (uji Laboratorium).
DAFTAR PUSTAKA


Dep. Kes RI, 2005. Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang Kesehatan. Fakultas Kedokteran UNFAD.

Budiarto, 2002. Biostatika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC

Daniel, 2008. Benarkah Infertilitas Disebabkan Gaya Hidup. Bandung : PT. Refika Aditama.

Elizabeth, 2005.  Panduan kesehatan Bagi Wanita. Jakarta : PT. Prestasi Pustaka.

Manuaba, IBG., 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan. Jakarta.

Hasto, 2002. Infertilitas. Makalah Seminar Bayi Tabung. RSUP dr. Sardjito,Yogyakarta.


 
Sumapraja S. Pemeriksaan pasangan infertil.Jakarta : Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia

2 comments:

Diet Sehat

10 TIPS DIET SEHAT  Menonton apa yang Anda makan adalah salah satu hal terpenting yang dapat Anda lakukan untuk mencegah penyakit jantung da...